Halo sohib, kita selaku anak muda pernah nggak merasa ada yang salah dari diri kita?
Kadang kita merasa mood berubah dalam waktu singkat, tiba-tiba kelelahan secara sosial atau yang biasa disebut social battery low, dan bahkan merasa cemas atau anxiety tanpa alasan yang jelas. Saat mengalami hal tersebut, biasanya kita langsung mencari informasi di internet, baik melalui Google maupun media sosial. Dari berbagai artikel dan postingan yang kita baca, kita sering kali menemukan bahwa gejala-gejala tersebut dikaitkan dengan gangguan kesehatan mental. Tanpa berpikir panjang, kita langsung merasa bahwa apa yang kita alami memang benar adanya dan kita pun mulai percaya bahwa kita memiliki gangguan tertentu.
Eits, tapi tunggu dulu! Apa yang kita yakini itu belum tentu benar. Bisa jadi, itu hanyalah kesimpulan sepihak yang kita buat sendiri tanpa adanya pemeriksaan atau konfirmasi dari tenaga medis. Fenomena ini disebut sebagai self-Diagnosis, yang meskipun terlihat membantu, ternyata bisa menimbulkan berbagai risiko dan dampak negatif bagi kesehatan kita. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami lebih dalam mengenai self-Diagnosis, penyebabnya, serta bahaya yang bisa ditimbulkannya.
Lalu Apa si Self Diagnosis?
Self-Diagnosis adalah tindakan seseorang dalam menilai atau menentukan kondisi kesehatannya sendiri berdasarkan informasi yang diperoleh dari berbagai sumber, terutama internet. Biasanya, seseorang melakukan ini dengan mencari gejala yang dialaminya melalui mesin pencari atau forum kesehatan, lalu menyimpulkan penyakit yang mungkin kita derita tanpa melakukan pemeriksaan medis yang tepat.
Apa si penyebab kita self Diagnosis?
Tidak semua informasi yang tersedia benar-benar akurat atau sesuai dengan kondisi medis seseorang. Banyak dari kita yang langsung percaya dengan informasi yang kita baca tanpa mengecek validitasnya, sehingga berisiko mengambil kesimpulan yang salah terkait kondisi kesehatan kita.
Rasa cemas yang berlebihan seringkali membuat kita lebih sensitif terhadap perubahan yang terjadi dalam tubuhnya. Saat mengalami gejala tertentu, kita langsung merasa panik dan mencari tahu penyebabnya di internet. Karena sudah dalam kondisi cemas, kita cenderung mudah menerima informasi yang ditemukan tanpa berpikir kritis, bahkan ketika informasi tersebut belum tentu sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Hal ini bisa memperburuk keadaan karena kita dapat merasa semakin stres dan yakin bahwa dirinya mengidap penyakit tertentu, padahal belum ada diagnosis resmi dari tenaga medis.
Lalu apa dampaknya?
Saat melakukan self diagnosis, Kita akan menghubungkan gejala yang dialami dengan informasi mengenai daftar gejala sebuah penyakit yang berada di internet. terkadang satu gejala bisa berkaitan dengan beberapa jenis penyakit. Jadi, peluang untuk salah diagnosis cukup besar.
Karena hanya berbekal artikel di internet tanpa konsultasi ke dokter atau psikiater, self diagnosis akhirnya bisa bikin kita jadi stres berat. Semakin banyak baca, sepertinya semakin berat saja penyakit yang mungkin kita derita.
Stres berat akibat melakukan self diagnosis pada akhirnya bisa berpengaruh pada perilaku kita. kita bisa saja melampiaskan stres dengan cara marah-marah, mabuk-mabukan, merokok, makan berlebihan, dan lain-lain. Tentu saja perilaku ini bisa berdampak buruk, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Melakukan self diagnosis juga dapat mendorong kita untuk berusaha mengobati diri sendiri. Bisa dengan membeli obat tanpa resep dokter, mencoba berbagai jenis obat bebas di apotek, atau pengobatan alternatif. Bahkan, bisa saja kita membiarkan gejala yang dialami begitu saja.
Keputusan self diagnosis ini bisa berujung kita juga berisiko salah minum obat. Memutuskan minum obat berdasarkan info dari internet juga terkadang bisa salah. Pasalnya, dokterlah yang sebenarnya tahu jenis dan dosis obat yang paling sesuai dengan gejala serta kondisi kesehatan kita.
Apa yang Harus Kita Lakukan?
Satu-satunya cara untuk menghindari bahaya self-Diagnosis adalah dengan berkonsultasi langsung ke tenaga medis atau layanan kesehatan yang terpercaya. Jika merasa ada gejala yang mengkhawatirkan, lebih baik segera mendatangi dokter atau profesional kesehatan agar bisa mendapatkan diagnosis yang akurat. Dengan begitu, dokter dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut, memberikan diagnosis yang sesuai, serta menentukan langkah pengobatan yang paling tepat untuk kondisi yang dialami. Selain itu, penting bagi kita untuk lebih bijak dalam mengonsumsi informasi kesehatan dari internet. Jika menemukan artikel atau konten medis, pastikan untuk mengecek sumbernya. Pilih sumber informasi yang kredibel, seperti situs resmi rumah sakit, lembaga kesehatan dunia, atau dokter yang memiliki keahlian di bidangnya. Jangan langsung percaya dengan informasi dari media sosial tanpa adanya validasi dari tenaga medis.
So, sekarang kita sudah tahu kan bahaya dari self-Diagnosis? Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan mencoba mengenali tubuh kita sendiri dan peka terhadap gejala yang muncul. Namun, kita tetap perlu mengonfirmasi hal tersebut kepada tenaga medis agar mendapatkan kepastian mengenai kondisi kesehatan kita. Dengan begitu, kita bisa mendapatkan penanganan yang tepat dan tidak terjebak dalam asumsi yang keliru. Jadi, mari lebih berhati-hati dan selalu konsultasikan masalah kesehatan kita kepada ahlinya!