Logo

contohQuiet Quitting: Trend Lowkey Resign Biar Mental Nggak K.O.?artikel

photo by RDNE Stock project on pexels

Hai Sohib! kalian semua sudah pada tau mengenai istilah “Quite Quitting” gak sih? Atau malah kalian udah pernah merasakan fenomena tersebut?. Fenomena quiet quitting awalnya dikenal dalam dunia kerja, di mana seseorang memilih untuk hanya bekerja sesuai tanggung jawabnya tanpa usaha berlebih. Namun, konsep ini kini meluas ke kehidupan sosial, terutama di kalangan Gen Z. Quiet quitting dalam pertemanan berarti menarik diri dari hubungan sosial yang dianggap toxic, melelahkan, atau tidak lagi membawa kebahagiaan tanpa harus melakukan konfrontasi langsung.

Alih-alih memutus hubungan secara drastis, seseorang yang melakukan quiet quitting akan perlahan mengurangi interaksi, tidak lagi berinisiatif, dan membatasi keterlibatan emosional mereka dalam suatu hubungan.

Mengapa Fenomena Ini Terjadi? 

Gen Z terkenal dengan generasi yang sangat peduli dan sadar akan kesehatan mental. Mereka akan melakukan hal-hal yang dapat menjaga kesehatan mental nya untuk tetap baik Tetapi tentu saja ada beberapa faktor penting yang menyebabkan fenomena ini terjadi yaitu : 

  1. Kesadaran akan Kesehatan Mental
    Gen Z lebih terbuka dalam membahas isu kesehatan mental dan menetapkan batasan dalam hubungan sosial. Mereka lebih sadar bahwa energi emosional perlu dijaga.
  2. Hiper-konektivitas Digital
    Terhubung secara terus-menerus di media sosial sering kali membuat seseorang merasa lelah. Era digital membuat komunikasi menjadi lebih instan dan intens. Tekanan untuk selalu available secara sosial bisa menyebabkan kelelahan emosional. Quiet quitting menjadi cara untuk membatasi interaksi tanpa harus sepenuhnya menghilang dari lingkaran sosial. 
  3. Toxic Positivity dan Tekanan Sosial
    Banyak Gen Z merasa terbebani oleh ekspektasi untuk selalu “positif” dan “sukses.” Mereka memilih untuk menarik diri dari hubungan yang terasa tidak tulus atau memaksa mereka menjadi seseorang yang bukan diri mereka. Gen Z lebih vokal dalam membahas hubungan yang toxic, baik dalam pertemanan maupun percintaan. Mereka lebih cenderung meninggalkan hubungan yang tidak sehat daripada mempertahankannya dengan alasan loyalitas semata.
  4. Prioritas pada Diri Sendiri
    Konsep self-care semakin populer. Banyak yang mulai menyadari bahwa mempertahankan hubungan yang tidak seimbang hanya akan menguras energi.
  5. Budaya No Confrontation
    Tidak semua orang nyaman dengan konfrontasi. Quiet quitting menjadi solusi yang lebih tenang dibandingkan harus berbicara langsung atau memutuskan hubungan dengan cara dramatis. Quiet quitting menjadi jalan keluar tanpa harus berbicara panjang lebar atau berdebat.

Nah, dengan penjelasan diatas pastinya dapat kita simpulkan kalau quiet quitting memiliki dampak negatif dan positif ya sohib. Lalu bagaimana sih cara menerapkannya dengan benar dan tidak berlebihan? 

Bagaimana Menerapkan Quiet Quitting dengan Tepat ?

Jika kamu merasa perlu melakukan quiet quitting, lakukan dengan cara yang tetap menghormati hubungan sosial:

  1. Evaluasi Hubungan dengan Jujur
    Sebelum mengambil keputusan, tanyakan pada diri sendiri: apakah hubungan ini benar-benar toxic, atau hanya butuh komunikasi yang lebih baik? Terkadang, kesalahpahaman atau perbedaan ekspektasi bisa diselesaikan dengan berbicara terbuka.
  2. Komunikasikan dengan Baik
    Jika memungkinkan, sampaikan batasan yang kamu butuhkan kepada orang-orang terdekat. Tidak harus dengan konfrontasi besar, cukup jelaskan bahwa kamu butuh ruang atau ingin mengurangi intensitas interaksi. Dengan begitu, orang lain tidak merasa diabaikan tanpa alasan.
  3. Tetapkan Batasan yang Sehat
    Quiet quitting bukan berarti memutus hubungan sepenuhnya, melainkan mengatur ulang batasan agar lebih nyaman. Batasi interaksi yang terasa melelahkan tanpa harus benar-benar menghindar atau bersikap dingin.
  4. Jangan Menutup Diri Sepenuhnya
    Menjaga jarak dari lingkungan yang tidak sehat itu penting, tetapi jangan sampai malah membuatmu mengisolasi diri. Fokuslah pada hubungan yang lebih positif dan berkualitas, bukan sekadar menjauh dari yang negatif.
  5. Hindari Ghosting
    Menghilang tanpa penjelasan bisa menyakiti orang lain dan meninggalkan kesan buruk. Jika memang perlu mengakhiri hubungan, lakukan dengan cara yang tetap menghargai perasaan orang tersebut.
  6. Gunakan Waktu untuk Refleksi
    Pastikan keputusan ini memang demi kesehatan mental, bukan sekadar cara untuk menghindari konflik. Terkadang, menghadapi masalah dengan komunikasi yang baik bisa memberikan solusi yang lebih sehat dibandingkan langsung menarik diri.

Bagaimana menurut sohib ? Apakah quiet quitting dalam kehidupan sosial ini memang solusi yang tepat atau justru bisa berdampak negatif dalam jangka panjang?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Level Up! adalah komunitas anak muda, platform dan gerakan sosial dibidang pendidikan non-formal. Kami adalah sebuah platform gratis untuk anak muda mengembangkan dirinya dan menjadi tempat untuk para milenial & gen-z mendapatkan pengalaman/ilmu/skill baru yang tidak didapatkan di bangku pendidikan formal

HOME

BLOG

ABOUT

CONTACT US

Contact Us

Level Up Indonesia Headquarters

Jl. Kupang Krajan II No 34 A, Sawahan - 60253
Surabaya, Jawa Timur, Indonesia

e-mail :

levelup.surel@gmail.com

hai@levelupindonesia.com

phone :

+62 838-4919-4848

Copyright © 2022 by Level Up! Indonesia. All Right Reserved.