Hai Sohib! kalian semua sudah pada tau mengenai istilah “Quite Quitting” gak sih? Atau malah kalian udah pernah merasakan fenomena tersebut?. Fenomena quiet quitting awalnya dikenal dalam dunia kerja, di mana seseorang memilih untuk hanya bekerja sesuai tanggung jawabnya tanpa usaha berlebih. Namun, konsep ini kini meluas ke kehidupan sosial, terutama di kalangan Gen Z. Quiet quitting dalam pertemanan berarti menarik diri dari hubungan sosial yang dianggap toxic, melelahkan, atau tidak lagi membawa kebahagiaan tanpa harus melakukan konfrontasi langsung.
Alih-alih memutus hubungan secara drastis, seseorang yang melakukan quiet quitting akan perlahan mengurangi interaksi, tidak lagi berinisiatif, dan membatasi keterlibatan emosional mereka dalam suatu hubungan.
Mengapa Fenomena Ini Terjadi?
Gen Z terkenal dengan generasi yang sangat peduli dan sadar akan kesehatan mental. Mereka akan melakukan hal-hal yang dapat menjaga kesehatan mental nya untuk tetap baik Tetapi tentu saja ada beberapa faktor penting yang menyebabkan fenomena ini terjadi yaitu :
Nah, dengan penjelasan diatas pastinya dapat kita simpulkan kalau quiet quitting memiliki dampak negatif dan positif ya sohib. Lalu bagaimana sih cara menerapkannya dengan benar dan tidak berlebihan?
Bagaimana Menerapkan Quiet Quitting dengan Tepat ?
Jika kamu merasa perlu melakukan quiet quitting, lakukan dengan cara yang tetap menghormati hubungan sosial:
Bagaimana menurut sohib ? Apakah quiet quitting dalam kehidupan sosial ini memang solusi yang tepat atau justru bisa berdampak negatif dalam jangka panjang?